Seiring dengan pesatnya kemajuan perindustrian, makin besar pulalah pemakaian zat-zat kimia yang mendukung jalannya industri tersebut. Maka dampaknya tentu saja akan terjadi peningkatan terhadap risiko terjadinya penyakit yang disebabkan oleh bahan kimia.

Bahan kimia yang bersifat racun ini, baik yang dihasilkan atau yang dipakai dalam proses industri, bisa berupa gas, zat padat atau cairan. Suatu zat kimia beracun dapat menyebabkan penyakit di rongga mulut melalui dua cara. Pertama: secara langsung, yaitu jika zat kimia beracun langsung masuk ke dalam rongga mulut. Misalnya melalui makanan yang terkontaminasi atau secara tidak sengaja termakan suatu jenis zat beracun tersebut. Kedua: secara tidak langsung, yaitu jika zat beracun masuk melalui kulit atau saluran nafas dan bercampur dengan aliran darah menuju ke seluruh tubuh termasuk ke daerah rongga mulut. Cara yang kedua adalah kemungkinan yang paling sering tejadi.

Zat-zat yang berefek samping pada kesehatan gigi dan mulut

Zat Kimia Berbahaya

Industri Pemakai atau Penghasil

Penyakit Rongga Mulut yang Ditimbulkan

Tembaga. Nikel, besi,  batu bara Industri perunggu, semen, klise, mesin bubut, pertambangan Pewarnaan pada gigi, pewarnaan pada gusi, pengikisan gigi yang luas, terbentuk karang gigi, gingivostomatitis, perdarahan
Seluloid, serbuk penggergajian, tembakau, tepung gandum Industri seluloid, tekstil, tembakau, industri tepung gandum, usaha penggergajian kayu Pewarnaan pada gigi, pewarnaan pada gusi, pengikisan gigi yang luas, terbentuk karang gigi, gingivostomatitis, perdarahan
Arsen Industri kimia penyepuhan, pemurnian logam, karet, peleburan timah, insektisida Kematian pada tulang rahang
Bismuth Industri yang memakai bahan bismuth, industri bubuk mesiu Gusi dan permukaan dalam mulut mengalami pewarnaan kebiru-biruan, gingivostomatitis
Khrom Industri anilin, krom fotografi, baja, karet Kematian tulang rahang, sariawan
Fluor Industri kriolit Osteosklerosis
Timbal Industri klise, insektisida, baterai, pemurnian logam Pb, percetakan, karet Gusi mengalami pewarnaan biru kehitam-hitaman, gingivostomatitis
Merkuri Industri senjata, baterai, cat, alat peledak, lampu merkuri, barometer, temometer Gingivostomatitis, osteomielitis, ptialisme
Fosfor Industri penuangan kuningan, korek api, perunggu fosfor, pupuk, kembang api Gingivostomatitis, sariawan, osteomielitis
Gula (sukrosa) Peusahaan roti, permen Karies gigi
Makanan panas Kayawan estoran Saiawan, leukoplakia
Anilin Industri anilin, batu bara, bahan peledak, cat vulkanisasi, penyamakan kulit Bibi dan gusi menjadi berwarna biru
Benzen Oven arang batu, industri varnis, dry cleaning, vulkanisasi Radang gusi, sariawan, bibir berwarna biru
Kresol Industi ter, karet, batu bara, pembuatan disinfektan, pekerja tempat penyulingan, pekerja bahan pembalut untuk bedah Sariawan
Anggur Pabrik anggur Indera perasa lidah jadi bekurang
Asam-asam HCl, HF, HNO3, H2SO4 Industri pembuatan asam tersebut, penyulingan minyak, bahan peledak, galvanisasi Perdarahan, sariawan, email dan dentin gigi larut
Amil-asetat Industri alkohol, penyulingan, bahan peledak, shellac Sariawan
Akrolein Industri pengasah tulang, sabun dari lemak. Linoleum, pernis Sariawan
SO2, NH3 Industri setilen, zat warna, fotografi film, fosgen, gula, desinfektan, pabrik pendingan, perusahaan binatu (pencucian) Sariawan
CO, CO2 Pertambangan, peleburan logam, bengkel motor Bibir berwarna biru atau merah
Radium, sinar rontgent Tekniker, pekerja riset, pelukis Radang gusi. Radang jaringan pendukung gigi, osteomielitis, nekrosis, mulut kering, osteosklerosis

Faktor yang mempengaruhi ringan beratnya penyakit

1. Takaran (dosis) zat kimia

Masuknya zat racun ke dalam tubuh terutama melalui saluran napas yaitu dengan menghirup udara yang tercemar. Makin tinggi tingkat pencemaran, makin berat penyakit yang ditimbulkan.

2. Lamanya kontak dengan zat kimia

Makin lama seseorang berkontak dengan zat kimia berbahaya makin berat penyakit yang ditimbulkan.

3. Kondisi pekerjaan

Orang yang bekerja dengan menggunakan masker (penutup hidung dan mulut) akan mengalami gangguan yang lebih ringan dibanding yang tidak memakai

4. Kondisi pekerja

Seseorang yang memiliki kondisi fisik yang jelek atau kondisi lingkungan mulut yang buruk (misal: banyak karang gigi) atau memiliki kebiasaan buruk (misalnya merokok) akan menderita gangguan yang lebih berat.

Saran

Seluruh pekerja yang berkerja di tempat-tempat yang memiliki risiko tinggi terhadap paparan zat kimia berbahaya disarankan memeiksakan kesehatan secara rutin temasuk kesehatan gigi dan mulut setidaknya dua kali dalam setahun.

Disarikan dari:

Makalah berjudul “Bahan-Bahan Kimia Industri yang Dapat Meneybabkan Penyakit Rongga Mulut” disusun oleh Simon Marpaung. Bagian Kimia Fakultas Kedokteran Universitas Sumatea Utara Medan.

Ada hubungan yang sangat jelas antara kecemasan ibu dengan tingkah laku anak selama perawatan gigi. Biasanya seorang ibu memiliki perasaan cemas terhadap anaknya terutama bila anaknya akan menghadapi suatu hal yang baru pertama kali dialaminya, demikian pula bila anaknya akan mendapat perawatan gigi.

Kecemasan sang ibu adalah penyebab awal anak tidak berani periksa ke dokter gigi

Pada kunjungan pertama ibu telihat lebih cemas daripada anaknya sendiri, terutama bagi ibu-ibu yang belum pernah mendapatkan perawatan gigi. Dengan alasan tersebut, umumnya ibu akan menyertai anaknya ketika akan dirawata giginya. Segala tingkah laku ibu yang didasari rasa cemas sering terlihat dari wajah ibu tersebut. Hal ini akan menyebabkan kegelisahan pada diri anak sehingga dapat menganggu pelaksanaan dalam perawatan gigi. Kecemasan ibu dapat menyebabkan anak tidak kooperatif pada perawatan gigi.

Anak menjadi ketakutan

Dan tidak kooperatif

Pada kelompok umur 3-5 tahun hubungan antara rasa cemas ibu dengan tingkah laku anak pada perawatan gigi terlihat begitu nyata tetapi tidak demikian halnya pada anak di atas usia 5 tahun. Rasa cemas ibu mempengaruhi anak melalui modeling atau berbagai bentuk komunikasi. Pengaruh rasa cemas ibu terhadap anak dapat terlihat sebagai contoh berikut: seorang ibu berusaha menenangkan anaknya ketika berada di klinik tetapi efek yang terbentuk justru berlawanan karena melalui komunikasi, anak dapat mencoba membaca tanda-tanda yang menunjukkan kecemasan ibu.

Solusi:

Kecemasan ibu memberikan pengaruh besar kepada anak. Maka dari itu, solusinya harus berfokus pada penghilangan kecemasan pada si ibu terlebih dahulu. Hal ini bisa dicapai dengan keaktifan ibu dalam mencari informasi yang benar tentang kesehatan gigi dan prosedur perawatan gigi karena pada dasarnya kecemasan itu muncul karena kurangnya informasi tersebut. Si ibu bisa mengunjungi dokter gigi tanpa mengajak anak untuk berkonsultasi dan mendapatkan informasi selengkapnya langsung dari doketrnya. Setelah dirasa cukup jelas dan kecemasan ibu berkurang, ibu bisa mengajak anaknya untuk dilakukan pemeriksaan dan perawatan.

perawatan gigi anak idealnya seperti ini, tidak ada rasa takut dan anak menjadi penurut

 

[Disarikan dari skripsi yang berjudul: Pengaruh Rasa Cemas Ibu Terhadap Tingkah Laku Anak Waktu Perawatan Gigi (2003) oleh Juanda, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara, Medan]

Saat terjadi kehamilan, perubahan besar-besaran terjadi baik secara anatomis dan fisiologis. Perubahan ini hampir terjadi pada setiap organ seperti sistem reproduksi, endokrin, sirkulasi, pencernaan dan juga rongga mulut. Maka dari itu selama kehamilan, seorang wanita tak akan luput dari berbagai keluhan dan masalah. Beberapa ibu hamil mengeluh giginya goyang. Beberapa di antaranya bahkan punya pengalaman tidak menyenangkan karena giginya tanggal setiap kali hamil. Sebagian masyarakat menganggap kondisi tersebut merupakan kejadian wajar pada kehamilan. Padahal semua masalah tersebut disebabkan karena kerusakan jaringan pendukung gigi atau lingkungan mulut yang jelek dan tidak mendapatkan perawatan.

Berikut adalah masalah-masalah berisiko terjadi pada wanita hamil.

 

1.       Karies gigi

Sebenarnya tidak ada hubungan langsung antara karies dan kehamilan. Kerusakan gigi pada wanita hamil terjadi akibat adanya perlekatan asam yang terus menerus pada permukaan gigi, bukan karena kehamilannya. Hal ini bisa terjadi ketika wanita mengalami ngidam. Beberapa diantara mereka mengkonsumsi makanan atau minuman yang sangat manis untuk mencegah mual pada trimester pertama. Mengkonsumsi gula sedikit demi sedikit dalam jangka waktu yang lama itu jauh lebih merusak daripada mengkonsumsi banyak gula dalam satu waktu karena setiap kali makan, bakteri akan tetap bertahan selama 20 menit dan menyebabkan gigi belubang.

Karies Gigi

Solusi:

  • Menyikat gigi setiap hai terutama setelah makan dan sebelum tidur.
  • Membersihkan gigi dengan benang gigi (dental floss) di sela-sela gigi.
  • Mengganti sikat gigi yang baru setiap 3 bulan sekali.
  • Mengurangi konsumsi makanan yang banyak mengandung gula dan karbohodrat.
  • Mengkonsumsi makanan yang mengandung cukup protein, kalsium, fosfor dan vitamin.
  • Melakukan pemeriksaan gigi secara teratur.

 

2.       Pengikisan email gigi

Gigi bisa tekikis akibat tekena kontak dengan zat asam. Wanita hamil sering mual dan muntah. Hal ini menyebabkan asam lambung ikut keluar. Asam lambung yang berkali-kali kontak dengan permukaan gigi akan menyebabkan email gigi tekikis. Akibat dari pengikisan email ini, gigi menjadi lebih sensitif dan mudah terserang karies. Karena ketiadaan email, gigi menjadi lebih rapuh sehingga proses penyikatan gigi pun justru semakin membuat gigi semakin mudah terkikis.

Pegikisan Gigi Karena Terkena Asam Lambung yang Ikut Keluar Bersama Muntahan

Solusi:

  • Sering berkumur dengan larutan yang mengandung fluoride untuk memperkuat gigi dan mengurangi efek asam yang mengenai permukaan gigi.
  • Berkumur dengan larutan sodium bikarbonat (dengan melarutkan 2 sendok teh baking soda ke dalam segelas air). Larutan ini dapat menetralisir asam pada permukaan gigi.
  • Untuk mengurangi rasa mual, konsumsi makanan kecil yang aman untuk gigi misalnya buah-buahan, jus buah murni tanpa pemanis, sereal dan sayuran mentah atau lalapan.
  • Hindari menyikat gigi setelah muntah karena gigi yang baru saja tekena asam lambung akan lebih mudah tekikis karena penyikatan.

 

3.       Peradangan gusi

Perubahan hormon estrogen dan progesteron pada saat hamil mengakibatkan meningkatnya vaskularisasi dan peubahan dinding pembuluh darah di gusi sehingga gusi menjadi lebih sensitif tekena iritasi lokal. Iritasi lokal ini bisa diakibatkan oleh plak yang efeknya bisa diperparah oleh adanya karang gigi, karies, gigi berjejal, gigi tiruan, tambalan gigi yang sudah tidak baik, sisa makanan atau sisa akar gigi. Peradangan akan diperparah juga ketika wanita hamil tidak mampu membersihkan gigi secara maksimal karena aktivitas menggosok gigi selalu membuat mual.

Peradangan Gusi Pada Wanita Hamil. Gusi Nampak Kemerahan, Bengkak dan Mudah Berdarah

Solusi:

  • Menghilangkan semua jenis iritan lokal seperti plak sisa makanan dan karang gigi.
  • Jika ada tambalan gigi yang tidak baik, atau gigi tiruan yang tidak nyaman segera diperbaiki.
  • Pemeriksaan gigi dan mulut secara periodik.

 

4.       Tumor jinak kehamilan (granuloma piogenik)

Granuloma piogenik cenderung berkembang pada pasien-pasien yang mempunyai kebersihan mulut jelek atau iritasi mulut kronis misalnya disebabkan oleh tambalan yang telalu berlebih dan karang gigi. Wanita lebih rawan terhadap keadaan tersebut karena pengaruh hormonal. Granuloma piogenik dapat berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon yang terjadi selama kehamilan. Kira-kira 1% wanita hamil mengalaminya.

Granuloma Piogenik

Solusi:

  • Tumor ini bisa sembuh dengan sendirinya dan bisa hilang seluruhnya setelah melahirkan. Yang perlu diperhatikan hanyalah selalu menjaga kebersihan rongga mulut agar tidak memperparah. Jika setelah kehamilan tidak ada tanda-tanda kesembuhan, harus segera dilakukan pembedahan.

 

5.       Meningkatnya kegoyahan gigi

Pada tingkat lanjut, peradangan gusi akan menyebabkan jaringan pendukung lain ikut meradang. Jaringan pendukung yang meradang ini akan menyebabkan gigi tidak lagi tertanam dengan kuat. Maka gigi bisa goyang bahkan lepas.

Solusi:

  • Kegoyahan gigi tekait dengan peradangan gusi yang diderita wanita hamil. Jadi solusi yang tebaik adalah menhindari terjadinya peradangan gusi dengan merujuk solusi di nomer 3.

 

APA YANG TERJADI JIKA SELAMA KEHAMILAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT TIDAK TERJAGA?

Radang gusi (gingivitis) yang berkembang menjadi radang jaringan pendukung gigi (periodontitis) akan beakibat buruk pada proses kehamilan. Peradangan ini akan membuat gusi lebih mudah berdarah. Dalam keadaan rongga mulut yang banyak plak, bakteri dari plak akan menyebar lewat gusi yang terluka dan menyebar bersama aliran darah. Bakteri dan produknya akan memasuki plasenta sehingga menyebabkan kontraksi otot rahim dan pelebaran leher rahim sehingga bakteri yang masuk semakin banyak dan semakin bertambah.

Adanya infeksi bakteri selama kehamilan dapat menyebabkan gangguan pengaturan hormon yang mengatur kehamilan. Hal ini memungkinkan terjadi robeknya membran plasenta sebelum waktunya dan dapat berakibat terjadinya kelahiran prematur dan berat bayi lahir rendah.

 

KESIMPULAN

Kelainan yang terjadi di rongga mulut selama kehamilan akan menjadi masalah yang serius karena dapat mempengaruhi kondisi ibu hamil dan keselamatan janin yang dikandungnya. Pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut harus dilakukan secara optimal dan rutin memeriksakan ke dokter gigi. Hal ini dapat mencegah dan mengurangi tejadinya komplikasi yang akan terjadi.

 

(Disarikan dari skripsi berjudul ‘Manifestasi Kehamilan Di Rongga Mulut dan Perawatannya’ (2005) oleh Fatimah, Mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Medan.) 

Kesadaran masyarakat untuk mengusahakan perawatan kesehatan untuk dirinya sendiri cenderung meningkat. Terlebih dengan adanya efek promosi di berbagai media mengenai bahan-bahan kesehatan sudah dikemas dengan begitu kreatif dan menarik perhatian. Salah satunya adalah produk obat kumur. Produk obat kumur sudah berkembang begitu pesat dengan berbagai merk dan kelebihan masing-masing. Obat kumur termasuk obat yang bisa dibeli dengan bebas tanpa resep oleh konsumen. Namun sebagai konsumen yang hanya mengandalkan informasi iklan, bisakah kita memilih secara rasional dan mempertimbangkan efek samping dari produk obat kumur yang komposisinya begitu bervariasi tersebut?

Di bawah akan dijabarkan bahan-bahan obat kumur yang bisa menimbulkan efek samping bagi orang yang sensitif atau ketika digunakan secara berlebih. Memang bahan-bahan dari tiap merk obat kumur berbeda-beda, namun konsumen hendaknya tetap kritis untuk melihat komposisi bahan-bahan yang terkandung dalam obat kumur tersebut. Tiap bahan pasti akan menimbulkan efek samping. Yang perlu diperhatikan adalah apakah efek samping tersebut lebih besar daripada manfaatnya. Jika ternyata terdapat gejala-gejala yang kurang menyenangkan, maka dengan adanya artikel ini, hendaknya konsumen bisa memilih obat kumur dengan komposisi yang lain.

 

Klorheksidin

Pemakaian obat kumur yang mengandung klorheksidin akan menimbulkan efek samping berupa perubahan pengecapan rasa, pembentukan bercak atau pewarnaan kuning kecoklatan pada gusi, sela-sela gigi dan lidah. Pemakaian klorheksidin 0,1% atau 0,2% dalam jangka waktu 4 bulan dapat memberikan efek pengelupasan pada lapisan rongga mulut.

Solusi: untuk mengurangi efek pewarnaan ini, berkumurlah sebelum tidur di malam hari pada saat dimana tidak ada lagi pasokan makanan dan minuman. Karena pewarnaan terjadi akibat pembentukan sulfida besi karena reaksi sulfur yang berasal dari kelompok tiol dari protein yang mengalami denaturasidengan ion besi yang berasal dari makanan dan minuman.

Alkohol

Obat kumur yang mengandung alkohol tinggi, jika terlalu lama berkontak dengan rongga mulut akan berisiko timbul adanya kelainan misalnya iritasi. Alkohol yang biasa dipakai dalam obat kumur bisa mencapai kadar 26,9%. Kadar ini jauh lebih tinggi dari minuman beralkohol dan kontaknya di rongga mulut juga jauh lebih lama daripada minuman beralkohol yang langsung ditelan. Jika digunakan dalam jangka panjang maka risiko untuk terkena kanker mulut menjadi dua kali lipat. Terdapat sebuah penelitian yang menyatakan bahwa 11 dari 100 pasien penderita kanker squamous cell carcinoma ternyata menggunakan obat kumur yang mengandung alkohol 25% setiap hari selama 20 tahun.

Minyak cinnamon

Kadangkala obat kumur mengandung minyak esensial misalnya minyak cinnamon. Pada orang-orang tertentu minyak ini bisa berakibat timbulnya hipersensitivitas di rongga mulut. Jika hal ini tejadi, penggunaan obat kumur harus segera dihentikan.

Antibiotik

Obat kumur yang mengandung antibiotik memang bukan untuk dipakai sebagai pemakaian rutin. Pemakaiannya harus sesuai petunjuk dokter karena pemakaian yang berlebih akan menyebabkan bakteri menjadi kebal dan mudahnya terkena infeksi jamur.

Hidrogen peroksida

Obat kumur kadang mengandung zat antiseptik misalnya hidrogen peroksida. Pemakaian hidrogen peroksida  dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan tejadinya black hairy tongue yaitu papila lidah memanjang dan membentuk lapisan coklat.

KESIMPULAN

Obat kumur memang bisa dibeli secara bebas tanpa resep dokter. Efek iklan di berbagai media juga semakin menarik bagi konsumen. Namun dengan kebebasan membeli dan menggunakan obat ini hendaknya diimbangi juga dengan berbagai pengetahuan mengenai efek negatif dari bahan-bahan yang tekandung dalam obat kumur. Karena bagaimanapu, sebuah obat tidak selalu bisa menyembuhkan jika dipakai secara berlebihan. Obat kumur sebanrnya termasuk obat yang relatif aman, tentunya dengan aturan pakai yang tetap dijaga. Karena hanya dengan pemakaian yang berlebihan, efek-efek zat yang telah dijabarkan di ataslah yang nantinya akan memberikan kerugian bagi pemakainya.

Untuk beberapa orang mungkin saja terjadi reaksi yang berlebihan hanya dengan pemakaian normal saja. Maka jika hal tesebut sudah terjadi, hendaknya konsumen segera menghentikan pemakaian obat kumur dan atau menggantinya dengan obat kumur yang memiliki komposisi yang lain.

[Disarikan dari: Skipsi berjudul “Kegunaan dan Efek Samping Obat Kumur Dalam Rongga Mulut” tahun 2005. Di susun oleh Sri Yuliharsini, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Medan]

Menurut catatan sejarah, siwak sudah dipakai sejak sekita 7000 SM di Babylonia, Yunani, Romawi Kerajaan Islam dan Mesir. Saat ini penggunaan siwak sudah begitu luas baik dengan kayu aslinya hingga produk-produk olahan pabrik yang lebih modern.

Bagi orang Islam, penggunaan siwak memang merupakan anjuran sunah Rasul. Setelah dilakukan penelitian, anjuran Nabi Muhammad itu bukanlah sekedar anjuran yang tak beralasan karena selain praktis dan bisa digunakan kapan saja, siwak terbukti mengandung bahan-bahan yang bisa menjaga kesehatan gigi dan mulut.

Dengan adanya pengetahuan mengenai manfaat siwak ini, benda tersebut bukan lagi dipandang sebagai alat pembersih tradisional. Sebagian orang yang tinggal di perkotaan pun, setelah memahami manfaatnya, telah tebiasa juga menggunakan siwak. Namun banyak orang yang belum mengerti apa saja manfaat dari siwak ini. Oleh karena itu, marilah kita tengok zat-zat apa saja yang tekandung dalam siwak beserta khasiatnya.

Ekstrak-ekstrak yang terdapat dalam kayu siwak yang memiliki berbagai macam khasiat itu antara lain:

Trimethylamine berguna untuk menghilangkan karang gigi dan pewarnaan gigi. Bersifat antibakteri dan sebagai anti radang. 
Chlorides Berguna sebagai antimikroba
Fluoride Mampu memperkuat struktur email gigi dan mencegah karies
Silica Dapat membuat gigi mengkilat sehingga tampak lebih putih dan bersih
Vitamin C Mencegah perdarahan pada gusi
Tannin Mengurangi sakit pada gusi
Saponin Mempunyai sifat seperti sabun sehingga dapat melarutkan kotoran. Berfungsi juga sebagai antiradang.
Flavonoid Menguatkan gusi dan mencegah terjadinya radang gusi.
Sterol Mengurangi pembentukan plak gigi
Salvadorine Sebagai antibakteri dan antiradang
Mustard oil Membuat gigi dan gusi bersih dan menguatkan jaringan pendukung gigi.
Resin Memperkuat email gigi sehingga terlindung dari karies.
Sulfur Melindungi gigi dari bakteri.
Nitrat Memiliki efek antibakteri

Cara penggunaan siwak

Untuk hasil yang optimal, siwak sebaiknya digunakan tiap kali sesudah makan. Sebaiknya kayu siwak dipakai selagi masih dalam keadaan masih segar dan lentur. Jika kelembabannya sudah hilang dan kering, sebaiknya direndam air selama beberapa jam sebelum digunakan. Berikut tahapan cara mempersiapkan batang kayu siwak sebelum digunakan.

  1. Batang siwak dipotong kira-kira sepanjang 15-20 cm. Batang ini bisa diambil dari bagian akar, tangkai atau ranting dari tanamannya.
  2. Kupas dan hilangkan kulit kayu hanya pada ujung yang hendak dipakai saja.
  3. Bagian ujung yang sudah dihilangkan kulitnya tersebut digigit-gigit atau dikunyah hingga serat-seratnya terpisah dan menyerupai sikat.
  4. Bagian yang sudah berbentuk sikat tadi digosokkan ke gigi dengan gerakan seperti menyikat gigi pada umumnya yaitu gerakan keatas dan kebawah.
  5. Setelah dipakai, ujung siwak dipotong dan dibuang sehingga kebersihan tetap terjamin.

Selain digunakan sebagai sikat gigi, siwak juga bisa direbus dan rebusan airnya digunakan untuk kumur-kumur. Khasiat air rebusan ini adalah mampu mengurangi rasa sakit pada gigi dan gusi karena siwak memiliki zat antinyeri.

Maka dengan khasiatnya yang begitu banyak, siwak hendaknya dijadikan sebagai pilihan utama untuk kembali ke bahan alam dalam mendapatkan hasil yang maksimal sekaligus menunaikan sunah Nabi Muhammad SAW.

————————————————————–0000——————————————————————————-

Disarikan dari skripsi berjudul Efek Penggunaan Siwak Pada Gigi dan Gingiva (2004) yang disusun oleh Erda Mutiadewi mahasiswa program sarjana Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Medan.

Mengunyah sirih atau lazim disebut sebagai nginang nampaknya bukan hal yang asing di daerah pedesaan Jawa. Para orang tua masih banyak yang melakukan kegiatan ini karena dianggap sudah turun temurun. Siapa sangka kegiatan menginang ini dilakukan di daerah lain juga? Beberapa negara di benua Asia juga melakukan kebiasaan ini. Bahkan sampai ke kepulauan di Irlandia dan Inggris.

Di Jawa, kegiatan menyirih biasanya dilakukan selama kurang lebih 30 menit. Umumnya komposisi menyirih menggunakan bahan-bahan seperti daun sirih, buah pinang, kapur sirih, gambir dan kapulaga. Bisa juga ditambahkan cengkeh atau kayu manis. Tembakau digunakan sebagai susur dan tidak dimasukkan dalam campuran yang untuk dikunyah.

budaya menyirih atau menginang di kalangan orang-orang tua

Para pengunyah sirih percaya bahwa kebiasaan tersebut mampu memperkuat gigi dan gusi dan mampu menyegarkan nafas. Bahkan beberapa orang mempercayai bisa sebagai obat untuk saluran pernafasan dan mampu melawan berbagai penyakit di rongga mulut. Benarkah menginang memiliki efek postif untuk kesehatan rongga mulut? Mari kita lihat dari masing-masing bahan dasar dan efek dari zat yang dikandungnya.

Daun sirih

daun sirih

Positif: Daun sirih mengandung minyak atsiri yang memiliki kemampuan membunuh bakteri sehingga dapat menghilangkan adanya infeksi. Zat lain yang terkandung dalam daun sirih juga dilaporkan mampu berkhasiat sebagai antiseptik dan penghilang nyeri. Daya antibakteri pada daun sirih juga mampu mengurangi pertumbuhan bakteri penyebab gigi berlubang. Daun sirih juga memiliki sifat mampu mengerutkan jaringan sehingga  mampu mengencangkan gusi dan menghentikan perdarahan.

Negatif: karena memiliki efek mengerutkan jaringan, pada kondisi tetentu justru akan menyebabkan keringnya rongga mulut, sariawan dan mengerutnya papila lidah sehingga fungsi indera pengecap akan menurun.

Buah pinang

buah pinang

Positif: Zat yang tekandung di dalam buah pinang tenyata mampu memberikan rangsangan pada sistem saraf pusat dan jika dikombinasikan dengan daun sirih akan menimbulkan efek euforia ringan. Selain itu biji pinang mampu mengencangkan gusi dan menghentikan perdarahan sama seperti daun sirih.

Negatif: buah pinang akan berubah warna menjadi merah jika berada dalam lingkungan basa seperti pada lingkungan mulut orang-orang yang mengunyah bahan-bahan menyirih. Pewarnaan ini akan membuat pewarnaan pada seluruh rongga mulut dan kebersihan mulut juga akan memburuk. Zat yang terdapat dalam biji pinang ternyata memiliki kemampuan untuk menyebabkan tumor. Efek pengkerutan jaringan akan sama dengan efek pada daun sirih.

Kapur

kapur sirih

Positif: Kapur yang digunakan untuk jika dicampur dengan air akan memberikan efek penetral terhadap zat asam yang dihasilkan bakteri.

Negatif: kapur memiliki komponen bahan yang sifatnya mampu mengikis permukaan gigi. Menjadikan lapisan pelindung gigi menjadi menipis. Kapur yang digunakan untuk menginang akan tertahan di rongga mulut selama berjam-jam hingga akhirnya mengendap dan pembentukan karang gigi akan lebih cepat. Karang gigi yang menimbun di daerah celah gusi akan menyebabkan peradangan pada gusi dan jaringan pendukung pada gigi. Jika dibiarkan tanpa adanya perawatan, gigi akan goyah dan tanggal dengan sendirinya.

Gambir

gambir

Positif: Dari zat yang dikandungnya, gambir memiliki khasiat sebagai obat mencret, perut mulas, radang tenggorokan, batuk dan disentri. Sama seperti daun sirih dan pinang, gambir juga mampu mengerutkan jaringan sehingga mampu mengencangkan gusi dan menghentikan perdarahan.

Negatif: sama seperti kapur, gambir juga bersifat mampu mengikis permukaan gigi. Efek pengkerutan jaringan akan sama dengan efek pada pinang dan daun sirih.

KESIMPULAN

Dengan memperhatikan efek dari setiap bahan, maka hendaknya kita tidak melihat kegiatan menyirih dari satu sisi akibatnya saja. Apalagi hanya meyakini akibat positif tanpa diimbangi efek negatifnya. Meski kandungan zat-zat tersebut memiliki efek positif, nyatanya banyak juga efek negatif yang bisa dibilang cukup serius dan memerlukan perhatian yang lebih serius.

Sumber:

  • Anonim, 2004, Sirih, http://www.pnm.my/sirih_pinang/sp.sirih.htm
  • Suproyo, H. 1985, Pemeriksaan mikrobiologis saku gusi dan penyakit periodontal pada pengunyah sirih, Kongres Nasional XVI PDGI, Bali, h. 76-81.
  • Anonim, 2004, Daun sejuta khasiat, http://www.kampus.com/kampus_cetak/0312/19/ jendela/755332.htm.
  • Anonim, 2004, Daun sirih sebagai antibakteri pasta gigi, http://www.pikiranrakyat.com /cetak/0603/01/1001.htm.
  • Budiharto, 1989, Efektivitas pengobatan sariawan dengan menggunakan daun saga dan daun sirih. Jakarta, h. 287-9.
  • Schuurs, A. H. B., Patologi gigi geligi, Gadjahmada University Press, Yogyakarta, h. 220, 230, 269.
  • Lu, C.t., Lan, S. J., Hsieh, C. C., Yang, M. J., Ko Y. C., Tsai, C. C. Yen, Y. Y., 1993, Prevalence and characteristics of areca nut chewers among junior high school student in Changhua country, Taiwan.
  • Anonim, 2005, Arecoline, http://www.omikrononline.de/cyberchem/cheminfo/arecoline.htm.
  • Mostehy, M. R. E., Al-Jassem, A. A. El Mahmed B. E., 2005, Oral submucous fibrosis review and case report, The Saudi Dental Journal, h. 60-4

Efek dari iklan di beberapa media nampaknya sungguh luar biasa. Hanya dengan tampilan iklan yang kreatif dan berkesan gaul, konsumen dengan mudahnya mengkonsumsi tanpa memperhatikan dampak negatif yang tersembunyi. Minuman ringan (softdrink) adalah salah satu bom waktu yang setiap saat akan meledakkan beberapa masalah kesehatan jika pola konsumsinya tidak diperhatikan.

Macam-macam produk softdrink

Softdrink adalah minuman yang tidak mengandung alkohol, umumnya tidak mengandung susu atau produk olahan susu dan biasanya dikonsumsi dalam keadaan dingin. Minuman bersoda ini merupakan air yang disertai dengan karbon dioksida yang menjadikannya sebagai air berkarbonasi, Secara umum minuman ringan dapat berupa cola, air berasa, air bergas, teh manis, limun, squash dan fruitpunch.

Softdrink yang dikonsumsi secara berlebihan akan menyebabkan pengeroposan tulang karena minimnya penyerapan kalsium dan terjadi hiperaktivitas. Kebanyakan minuman ringan mengandung zat asam yang mampu melarutkan jaringan keras pada gigi. Ditambah lagi campuran pemanis dengan konsentrasi tinggi akan menyebabkan kerusakan gigi lebih parah karena pemanis akan mengundang banyak bakteri perusak gigi.

Gigi bisa erosi karena larut oleh asam yang terkandung dalam softdrink

Efek pengeroposan gigi oleh softdrink akan maksimal pada menit-menit pertama setelah kontaknya rongga mulut dengan minuman tersebut. Frekuensi dan cara mengkonsumsi softdrink juga dapat mempengaruhi sifat pengeroposannya. Meminum softdrink dengan menggunakan sedotan daya pengeroposan giginya lebih kecil daripada jika diminum langsung tanpa sedotan karena jika menggunakan sedotan, minuman tersebut lebih sedikit kontaknya dengan permukaan gigi.

Jika anda ingin meminum softdrink, minumlah menggunakan sedotan untuk mengurangi efek negatifnya

Daftar Pustaka
-Emilia Y., Djamil M. D., Syamsiatun N. H., 2009, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Softdrink dan Masa Tulang Sisw SLTP Stella Duce 2 Yogyakarta.
-Michael M., Joseph, 2009, The Health Effect of Drinking Soda. Encyclopedia of Natural Medicine.
-Jensdottir et all, 2009, Immediate Erosive Potensial of Cola Drinks and Orange Juices, J Dent Res, 85 (3): 226-230.
-Anonim, 2009, Sukrose, Wikipedia.com.